Friday, November 23, 2007

Pangan Lokal, Keanekaragaman Budaya Kuliner Kita yang Semakin Terpinggirkan

Oleh : Oktani Fungsiana

Bagi kita, nama-nama umbi seperti gembili, uwi, suweg, gadung, bentoel dan lain-lain terdengar asing ditelinga. Jajanan pasar seperti gatot, cenil, klepon, gronthol pun semakin lama semakin tenggelam dengan banyaknya makanan kemasan di warung-warung sekitar. Anak-anak masih lebih mengenal Cheetos, Beng-Beng, Tanggo, dan Walls dibandingkan jajanan pasar tadi. Dalam penuturannya, mba Narsih, ibu beranak satu dengan usia anak 3 tahun, mengatakan bahwa setiap hari ia harus mengalokasikan minimal 5000 rupiah untuk jajan anaknya. Penjual es krim itu kalau tidak datang ya anaknya pergi ke warung, beli disana. Padahal harganya minimal 1500 rupiah, seringnya anak minta yang harganya 2000. itu baru untuk es krim, belum untuk jajan lainnya.


Kondisi ini berlangsung semenjak televisi masuk pedesaan. Media visual yang menarik ini kini hampir dimiliki oleh rumah tangga-rumah tangga di Indonesia, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Derasnya iklan tentang makanan dalam kemasan di media massa (televisi, radio, majalah) telah membuat ibu-ibu pusing dan kebingungan. Dari total pengeluaran harian, lebih dari 25 % dibelanjakan untuk jajan anak, untuk membeli panganan kemasan tersebut.


Sebenarnya, dalam budaya masyarakat Banyumas, dikenal berbagai jajanan pasar yang lezat rasanya. Makanan seperti cenil, gronthol, klepon, lupis, gatot, dll merupakan sedikit dari jenis-jenis makanan tersebut. Ada juga kudapan keluarga yang sering dijumpai dari olahan bahan-bahan umbi-umbian. Talas, singkong, dan suweg adalah beberapa bahan baku kudapan yang mudah diperoleh.


Tanaman-tanaman tersebut masih banyak dijumpai karena memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang tinggi. Berbagai jenis umbi-umbian tersebut telah lama tumbuh dan berkembang di lingkungan Banyumas, sehingga dapat berkembangbiak dengan baik. Ketika musim kemarau datang, umbi-umbian tersebut menjadi dorman dan masih dapat bertahan selama musim kering itu untuk kemudian tumbuh ketika musim penghujan datang, demikian kata Pak Narsudi, petani dari dusun Depok, Kelurahan Teluk. Dengan usianya yang hampir 70 tahun, beliau mengatakan bahwa sudah dari dulu tanaman-tanaman tersebut ada dan dikenal masyarakat di desanya. Bahkan jauh sebelum beliau lahir, hingga ke nenek buyutnya.


Berdasarkan penelitian, umbi-umbian tersebut memiliki kandungan gizi yang tinggi. Suweg memiliki kandungan kalsium yang baik bagi pertumbuhan anak, dapat menguatkan tulang dan gigi baik bagi anak maupun orang dewasa. Begitu juga dengan kimpul, selain mengandung kalsium, juga mengandung kalori yang digunakan oleh tubuh untuk beraktifitas. Sedangkan uwi memiliki fosfor dengan kandungan tinggi yang digunakan oleh tubuh untuk proses metabolisme. Tidak ketinggalan dengan gadung, umbi ini ternyata mengandung vitamin C cukup tinggi, bagus untuk meningkatkan kekebalan tubuh serta menghindari serangan flu di musim yang mudah berubah seperti sekarang.

Berikut adalah jenis umbian-umbian yang masih dijumpai di desa-desa di Kabupaten Banyumas

Nama umbi-umbian

Varietas

Singkong

Mentega

Ubi jalar

India, Pangkur, Palembang

Talas

Pari, Bogor, Jahe

Suweg

-

Gembili

-

Uwi

-

Kimpul

-



Selain umbi-umbian, ada juga jagung yang dapat diolah menjadi berbagai panganan yang menyehatkan. Gronthol dan marning adalah beberapa bentuk olahan jagung. Di beberapa tempat didataran tinggi, daerah pegunungan, jagung ini menjadi makanan pokok. Jagung yang telah kering ditumbuk kemudian ditanak menjadi nasi jagung yang I lezat apabila dikonsumsi dalam keadaan masih hangat.

Masyarakat di banyumas, mengolah umbi-umbian dengan berbagai cara, misalnya dengan merebusnya, menggoreng, mengukus, membakarnya, serta menggilingnya. Singkong misalnya, mulai dari digoreng, dibakar, di kukus, dikukus kemudian dicampur dengan gula (dibuat gethuk), digiling dibuat klanthing dan diiris-iris tipis menjadi sriping semuanya dapat dilakukan dengan citarasa yang berbeda-beda namun tetap enak.

Kemana Pangan Lokal Kita?


Pak Narsudi bertutur bahwa dulu ketika jaman jepang, masyarakat di daerah teluk mengkonsumsi nasi jagung sebagai manakan pokok. Kemudian ketika jaman tahun 1965 mereka susah mendapatkan jagung untuk dimakan, sehingga oyek pun menggantikannya. Singkong yang pada saat itu mudah diperoleh, di olah dengan dikeringkan untuk kemudian direbus. Setelah orde baru mencanangkan gerakan revolusi hijau, maka jagung pun diganti dengan beras. Keberhasilan produktivitas lahan basah, membuat beras mudah diperoleh dengan harga murah. Beras inilah yang disebut sebagai simbol kemakmuran masyarakat, sehingga mengkonsumsi beras sama dengan menunjukkan tingkat kemakmuran.


Jenis dan variasi pangan lokal yang ada semakin lama semakin menurun popularitasnya. Di Dusun Angkruk, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, anak-anak begitu menggemari es krim sehingga mereka akan dengan sukacita menyambut kedatangan penjual es krim sembari berlari-larian dibandingkan dengan kedatangan balok singkong buatan ibu. Publikasi yang intensif di media massa baik televisi, radio, majalah, serta mudahnya makanan pabrikan dijumpai, semakin meminggirkan makanan lokal. Anak-anak akan dengan mudah menyebutkan jenis makanan kemasan pabrik bila dibandingkan dengan jajanan pasar seperti gronthol, cenil, klepon, gatot, dan tiwul. Pencitraan makanan kemasan yang demikian di media massa membuat anak-anak kemudian memiliki perspektif bahwa makanan lokal itu kuno sedangkan makanan kemasan itu modern. Oleh karenanya anak-anak pun berpikir, ketinggalan jaman apabila mengkonsumsi makanan lokal.


Di Pasar Kober, pedagang penjual makanan lokal adalah mbah-mbah yang usianya sudah tua, beliau menjual lupis dan bunthil. Di dusun Depok, yang pandai membuat kerupuk gadung diantaranya adalah Bu Marto dan Bu Muraji. Beliau menjelaskan bahwa untuk dapat menghasilkan kerupuk gadung yang enak dan bebas racun memerlukan tahapan yang panjang, mulai dari perendaman selama 2 hari 2 malam dan penjemuran selama 3 kali di bawah sinar matahari. Oleh karenanya tidak banyak ibu muda yang telaten untuk membuatnya. Mereka merasa lebih senang membeli makanan jadi ataupun makanan instan yang cara memasaknya mudah serta cepat.


Tingginya tuntutan ekonomi keluarga sekarang ini membuat pasangan suami dan istri harus bekerja memenuhi kebutuhan keluarga. Kondisi tersebut mengurangi waktu yang tersedia bagi orang tua untuk menyediakan jajanan yang di olah sendiri dari bahan-bahan lokal. Kebutuhan anak akan makanan pun di penuhi dari warung yang ada dengan makanan pabrikan sebagai menu utama. Pengawasan orang tua terhadap makanan-makanan yang dikonsumsi oleh anak-anak pun semakin berkurang. p>

Makanan Lokal Bagi Kita


Makanan lokal sesungguhnya merupakan bentuk kekayaan budaya kuliner kita. Keanekaragamannya yang terbentuk atas dasar ketersediaan bahan baku dan kebutuhan lokal, menjadikannya memiliki tingkat kesesuaian yang tinggi dengan kebutuhan masyarakat akan energi bagi tubuhnya. Nasi jagung yang menjadi makanan pokok daerah pegunungan memiliki kandungan kalori 129 kal, 108 mg fossor, dan 117 SI vitamin A. menurut Pusat Pengembangan Konsumsi Pangan, kandungan gizi jagung adalah dua kali kandungan gizi beras, sehingga tidak heran apabila masyarakat yang mengkonsumsi jagung sebagai makanan pokok memiliki daya tahan tubuh yang lebih tinggi daripada masyarakat konsumen beras.


Konsumsi makanan yang bervariasi baik bagi kesehatan. Dengan asupan makanan yang beragam, maka kebutuhan tubuh akan mineral dan vitamin pun dapat terpenuhi dari makanan yang berbeda-beda. Pepatah cina tentang kesehatan mengatakan, bahwa salah satu sumber penyakit adalah makanan, namun makanan juga dapat menjadi sumber obat. Sehingga bagaimana memilih makanan yang baik bagi kesehatan akan sangat membantu menjaga kesehatan kita.

Makanan kemasan yang mengandung pengawet, pemanis buatan, penyedap dan pewarna buatan dapat mengganggu kesehatan. Berbagai penyakit seperti kanker, autisme, flek paru-paru, batuk, dan gigi berlubang merupakan sedikit dari akibat konsumsi makanan kemasan. Oleh karenanya biasanya penyakit-penyakit degeneratif tersebut banyak di derita oleh orang-orang yang tinggal di perkotaan.


Dampak yang paling besar dengan peminggiran makanan lokal adalah semakin tingginya ketergantungan masyarakat akan terigu dan beras. Tingginya harga beras saat ini salah satunya adalah karena rendahnya ketersediaan beras akibat kemunduran musim tanam dan bencana alam, sementara kebutuhan masyarakat akan beras semakin tinggi karena meningkatnya jumlah penduduk. Kondisi tersebut menimbulkan ketidakseimbangan persediaan dengan permintaan sehingga menaikkan harga beras. Dengan demikian, biaya pengeluaran konsumsi untuk keluarga pun menjadi tinggi.

Selain baik bagi kesehatan, keanekaragaman konsumsi pangan dengan memanfaatkan berbagai pangan lokal, juga baik bagi stabilitas pangan suatu daerah. Jenisnya yang banyak memungkinkan masyarakat untuk memiliki alternatif pangan lain selain beras, akibatnya adanya kenaikan harga beras tidak akan terasa begitu memberatkan masyarakat. Masih ada jagung dan singkong serta umbi-umbian lain yang juga dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan akan kalori. Hal ini tentu bagus bagi kondisi keuangan negara. Impor beras pun menjadi tidak begitu penting dilakukan sehingga devisa negara dapat lebih dihemat.


Cara yang dapat dilakukan untuk membangkitkan kembali eksistensi pangan lokal kita adalah dengan : 1) meneruskan pemahaman mengenai gizi kepada masyarakat, bahwa makan tidak hanya yang penting kenyang dan harus beras, tapi juga perlu variasi dengan aneka jenis makanan lainnya. Mengkonsumsi singkong ataupun jagung untuk selingan juga dapat dijadikan sebagai selingan menu keluarga sehingga kemampuan untuk menikmati berbagai jenis makanan yang berbeda menjadi tinggi. 2) meningkatkan citra makanan tersebut dengan meningkatkan variasi pengolahan seperti yang dilakukan oleh pengusaha gethuk goreng yang membuat Sokaraja terkenal serta Bu Tuti yang mempopulerkan ikan lembutan Sungai Serayu sehingga banyak diburu oleh orang-orang perantauan 3) perlunya dukungan dari pemerintah agar simbol-simbol kemakmuran tidak hanya ada pada beras, namun juga pada jenis-jenis makanan lokal lainnya, dan tentu saja 4) perlu dukungan dari kita semua untuk tetap melestarikan kebudayaan kuliner kita yang selain baik bagi kesehatan juga dapat menghemat pengeluaran rumah tangga. Jadi pilih murah dan sehat atau mahal dan mengundang penyakit?

2 comments:

mamat said...

Panganan lokal yang benar2 merupakan panganan asli dan murni serta tidak tercampuri dengan unsur-unsur kimiawi dalam pembuatannya, tentunya dari Sang Pencipta di Atas.

dan sangat disayangkan, sesuatu yang sifatnya murni (pure) untuk panganan kita sekarang ini malah ditinggalkan oleh masyarakat.

namun hal ini sangat kontradiktif dengan kecenderungan orang sekarang apabila mereka hendak berobat (dalam rangka penyembuhan suatu penyakit) terkadang mereka berusaha mencari obat-obat yang sifatnya murni (pure).

seperti yang digembar-gemborkan dalam pengobatan herbal; dengan istilah propolis,... dan sebagainya.

hendaknya kita mendidik keluarga kita untuk dapoat memahami pentingnya konsumsi yang baik-baik, seperti panganan lokal yang dimaksudkan dalam artikel ini. Bagi umat Islam, perintah ini sudah ada di dalam kitab sucinya Al Quran. yang memerintahkan kita untuk memakan yang baik-baik dan menjauhkan yang tidak baik...

rini agustini said...

Sebaiknya banyak produk makanan yang menggunakan bahan pangan lokal sebagai bahan dasar yang bermanfaat bagi kesehatan seperti ubi, singkong, kentang, dan sebagainya. Jangan hanya menggunakan produk impor untuk pengolahan pangan.
http://rinia09.student.ipb.ac.id